Target costing dan kaizen costing adalah dua pendekatan penting dalam strategic cost management. Keduanya membantu perusahaan mengelola biaya bukan hanya setelah biaya terjadi, melainkan sejak tahap perancangan produk sampai proses produksi berjalan. Target costing berangkat dari harga pasar dan laba yang diharapkan, sedangkan kaizen costing berfokus pada perbaikan biaya secara terus-menerus selama produksi.
Mengapa Pengendalian Biaya Harus Dimulai dari Desain?
Pada banyak industri, sebagian besar biaya produk ditentukan ketika desain, spesifikasi bahan, fitur, dan metode produksi dipilih. Setelah produk diluncurkan, ruang untuk mengurangi biaya biasanya lebih sempit karena perubahan desain dapat mengganggu kualitas, jadwal, atau hubungan dengan pelanggan. Karena itu, akuntansi biaya modern tidak hanya mencatat biaya historis. Informasinya digunakan oleh tim lintas fungsi—pemasaran, teknik, produksi, pembelian, dan keuangan—untuk merancang produk yang memberi nilai bagi pelanggan dengan biaya yang memungkinkan perusahaan memperoleh laba.
Target costing cocok ketika perusahaan beroperasi di pasar yang kompetitif dan tidak bebas menentukan harga. Harga jual diperkirakan dari persepsi pelanggan, posisi pesaing, serta nilai produk. Rumus dasarnya adalah:
Biaya target = Harga target − Laba target
Dengan rumus ini, biaya bukan sekadar hasil dari desain produk. Biaya menjadi batas yang harus dicapai melalui value engineering, penyederhanaan komponen, negosiasi pemasok, perbaikan proses, dan penghapusan aktivitas yang tidak memberi nilai.
Langkah-Langkah Target Costing
- Menentukan harga target. Perusahaan meneliti harga pesaing, daya beli, fitur yang dihargai pelanggan, serta strategi merek.
- Menentukan laba target. Laba dapat ditetapkan berdasarkan return on sales, return on investment, atau sasaran strategis perusahaan.
- Menghitung biaya target. Selisih harga dan laba menunjukkan biaya maksimum produk.
- Membandingkan dengan biaya saat ini. Selisih antara estimasi biaya dan biaya target disebut cost gap.
- Menutup cost gap. Tim mencari alternatif desain dan proses tanpa mengurangi fungsi penting, keamanan, atau kualitas yang dijanjikan.
- Memantau pencapaian. Biaya standar, indikator kualitas, dan umpan balik pemasok ditinjau sebelum produksi massal.
Contoh Perhitungan Target Costing
PT Cipta Elektronik akan meluncurkan blender rumah tangga. Riset pasar menunjukkan harga yang dapat diterima adalah Rp600.000 per unit. Manajemen menginginkan laba sebesar 25% dari harga jual.
| Komponen | Perhitungan | Nilai |
|---|---|---|
| Harga target | — | Rp600.000 |
| Laba target | 25% × Rp600.000 | Rp150.000 |
| Biaya target | Rp600.000 − Rp150.000 | Rp450.000 |
Estimasi biaya awal tim desain adalah Rp480.000 per unit. Cost gap sebesar Rp30.000 harus ditutup. Tim kemudian mengganti kemasan dengan bahan yang lebih ekonomis, mengurangi variasi sekrup, dan menegosiasikan harga motor dengan pemasok. Jika perubahan tersebut menurunkan biaya menjadi Rp447.000 tanpa mengurangi fungsi utama, perusahaan memiliki laba aktual Rp153.000 atau margin 25,5% dari harga jual.
Value Engineering dan Risiko Target Costing
Value engineering tidak berarti memangkas biaya secara membabi buta. Prinsipnya adalah mempertahankan fungsi yang dibutuhkan pelanggan dengan biaya serendah mungkin. Tim dapat bertanya: fungsi apa yang benar-benar dibayar pelanggan, apakah ada komponen dengan fungsi yang sama, dan apakah proses tertentu dapat disederhanakan? Pengurangan biaya yang menurunkan keselamatan, daya tahan, atau kepatuhan regulasi justru dapat menimbulkan biaya garansi dan merusak reputasi.
Risiko lain adalah target yang terlalu ketat. Jika target tidak realistis, pemasok dapat menurunkan mutu, karyawan melakukan jalan pintas, dan inovasi terhambat. Target harus didukung data teknis, dialog dengan pemasok, serta ukuran kualitas yang jelas.
Kaizen Costing dalam Produksi Berjalan
Berbeda dari target costing yang dominan pada tahap pengembangan, kaizen costing diterapkan setelah produk masuk tahap produksi. Kaizen berasal dari gagasan perbaikan berkelanjutan. Sasaran pengurangan biaya biasanya kecil tetapi dilakukan berulang kali melalui pengurangan waktu setup, pemborosan bahan, cacat, waktu tunggu, dan penggunaan energi.
Contohnya, lini produksi menetapkan sasaran penurunan biaya konversi 2% pada kuartal berikutnya. Biaya konversi saat ini Rp80.000 per unit. Sasaran penghematan adalah Rp1.600 per unit, sehingga biaya yang diharapkan setelah perbaikan menjadi Rp78.400. Perusahaan dapat mencapainya dengan menata ulang aliran kerja, melakukan pemeliharaan preventif, melatih operator, dan mengurangi produk cacat.
| Ukuran | Sebelum | Sasaran |
|---|---|---|
| Biaya konversi/unit | Rp80.000 | Rp78.400 |
| Tingkat cacat | 3% | 2% |
| Waktu setup | 60 menit | 50 menit |
Perbedaan Target Costing dan Kaizen Costing
| Aspek | Target costing | Kaizen costing |
|---|---|---|
| Waktu utama | Sebelum produksi | Saat produksi berjalan |
| Titik awal | Harga pasar dan laba | Biaya aktual dan proses |
| Metode | Desain dan value engineering | Perbaikan berkelanjutan |
Penerapan dalam Sistem Pengendalian Manajemen
Agar kedua metode tidak berhenti sebagai target di atas kertas, perusahaan perlu menghubungkan sasaran biaya dengan ukuran operasional. Laporan biaya sebaiknya memisahkan material, tenaga kerja, overhead, biaya kualitas, dan biaya logistik. Setiap penyimpangan perlu ditelusuri sampai penyebabnya, bukan hanya dibebankan kepada departemen yang hasil akhirnya terlihat buruk. Tim juga dapat memakai indikator waktu siklus, tingkat pemakaian bahan, persentase produk cacat, jumlah pengiriman tepat waktu, serta kepuasan pelanggan.
Insentif harus dirancang hati-hati. Jika karyawan hanya diberi penghargaan karena biaya rendah, mereka mungkin menunda pemeliharaan atau membeli bahan murah yang meningkatkan cacat. Sasaran biaya harus diseimbangkan dengan mutu, keselamatan, ketepatan pengiriman, dan kepuasan pelanggan. Inilah alasan strategic cost management memandang biaya sebagai bagian dari strategi, bukan sekadar angka yang harus ditekan.
Ringkasan
Target costing menjawab pertanyaan: “Berapa biaya maksimum yang boleh dimiliki produk agar harga pasar dan laba target tercapai?” Kaizen costing menjawab: “Bagaimana biaya produk yang sedang dibuat dapat terus diturunkan tanpa mengorbankan nilai dan mutu?” Keduanya melengkapi standard costing dan pengendalian operasional. Keberhasilan memerlukan kerja lintas fungsi, data biaya yang andal, ukuran kualitas, dan budaya perbaikan.
Latihan Soal
- Harga pasar sebuah produk Rp250.000 dan laba target 20% dari harga jual. Hitung biaya targetnya.
- Estimasi biaya produk Rp215.000, sedangkan biaya target Rp200.000. Berapa cost gap dan sebutkan tiga cara menutupnya?
- Biaya konversi Rp50.000 per unit ditargetkan turun 3% melalui kaizen costing. Berapa biaya sasaran per unit?
- Jelaskan mengapa pemotongan bahan yang menurunkan kualitas tidak dapat disebut value engineering yang baik.
Dalam artikel berikutnya, pembahasan berlanjut ke life-cycle costing dan strategic cost management.