Dalam sistem biaya yang kompleks, satu tarif overhead untuk seluruh pabrik kadang tidak lagi memadai. Departemen pemotongan, perakitan, pengecatan, dan pengemasan dapat memakai sumber daya dengan pola berbeda. Departmental overhead rates atau tarif overhead departemental membantu perusahaan membebankan overhead berdasarkan karakteristik masing-masing departemen. Pendekatan ini merupakan pengembangan dari tarif pabrik secara keseluruhan dan sejalan dengan prinsip akuntansi manajemen Horngren: informasi biaya harus mencerminkan hubungan antara aktivitas, sumber daya, dan objek biaya.
Apa Itu Tarif Overhead Departemental?
Tarif overhead departemental adalah tarif pembebanan overhead yang dihitung terpisah untuk setiap departemen produksi. Setiap departemen memiliki cost pool, estimasi overhead, serta cost driver yang paling relevan. Produk kemudian menerima beban overhead berdasarkan aktivitas yang benar-benar digunakan di setiap departemen yang dilaluinya.
Berbeda dengan tarif pabrik tunggal, metode ini mengakui bahwa satu jam tenaga kerja di departemen perakitan tidak selalu mengonsumsi overhead yang sama dengan satu jam mesin di departemen pemotongan. Tarif pabrik tunggal memang sederhana, tetapi dapat mendistorsi biaya ketika proses produksi dan tingkat otomatisasi antar departemen berbeda jauh.
Kapan Tarif Departemental Diperlukan?
- Departemen memiliki teknologi dan tingkat otomatisasi yang berbeda.
- Sebagian departemen terutama digerakkan jam mesin, sedangkan yang lain jam tenaga kerja.
- Produk melewati rute produksi yang berbeda.
- Nilai overhead cukup besar sehingga kesalahan alokasi memengaruhi harga dan profitabilitas.
- Manajemen membutuhkan informasi biaya produk yang lebih akurat untuk penetapan harga dan evaluasi kinerja.
Rumus Dasar
Untuk setiap departemen, gunakan rumus berikut:
Tarif overhead departemen = Estimasi overhead departemen ÷ Estimasi total aktivitas departemen
Overhead yang dibebankan kepada produk adalah:
Overhead produk = Tarif departemen × Aktivitas produk pada departemen tersebut
Contoh Perhitungan
PT Presisi memiliki dua departemen produksi. Departemen Pemotongan menggunakan mesin sebagai sumber daya utama, sedangkan Departemen Perakitan lebih banyak menggunakan tenaga kerja langsung.
| Departemen | Estimasi overhead | Dasar aktivitas | Volume |
|---|---|---|---|
| Pemotongan | Rp360.000.000 | Jam mesin | 18.000 jam |
| Perakitan | Rp240.000.000 | Jam tenaga kerja | 12.000 jam |
Tarif departementalnya adalah:
- Pemotongan: Rp360.000.000 ÷ 18.000 = Rp20.000 per jam mesin.
- Perakitan: Rp240.000.000 ÷ 12.000 = Rp20.000 per jam tenaga kerja.
Pesanan A memakai 150 jam mesin di Pemotongan dan 80 jam tenaga kerja di Perakitan. Overhead yang dibebankan kepada Pesanan A adalah:
(150 × Rp20.000) + (80 × Rp20.000) = Rp3.000.000 + Rp1.600.000 = Rp4.600.000.
Perhitungan tersebut dilakukan selain pencatatan bahan langsung dan tenaga kerja langsung. Jika Pesanan A memakai bahan langsung Rp7.000.000 dan tenaga kerja langsung Rp2.400.000, total biaya produksinya menjadi Rp14.000.000: Rp7.000.000 + Rp2.400.000 + Rp4.600.000.
Mengapa Tarif Pabrik Tunggal Bisa Menyesatkan?
Misalkan total overhead kedua departemen, Rp600.000.000, dibebankan menggunakan total 30.000 jam tenaga kerja. Tarif pabrik tunggal menjadi Rp20.000 per jam tenaga kerja. Pesanan A menggunakan 80 jam tenaga kerja di Perakitan, tetapi penggunaan mesin di Pemotongan tidak tercermin secara langsung. Jika jam mesin Pemotongan diabaikan, produk yang intensif mesin dapat menerima beban terlalu rendah, sedangkan produk yang padat karya dapat menerima beban terlalu tinggi.
Tarif departemental memperbaiki masalah itu dengan memilih driver yang sesuai. Namun, tarif ini tidak otomatis sempurna. Jika satu departemen memiliki aktivitas yang sangat beragam, satu driver departemental masih dapat menyembunyikan perbedaan konsumsi. Dalam situasi tersebut, perusahaan dapat mempertimbangkan activity-based costing dengan beberapa activity cost pool.
Langkah Implementasi
- Petakan aliran produksi dan departemen yang dilalui setiap produk.
- Kumpulkan overhead yang dapat ditelusuri langsung ke departemen.
- Alokasikan overhead bersama menggunakan dasar yang wajar.
- Pilih cost driver yang memiliki hubungan sebab-akibat dengan konsumsi sumber daya.
- Estimasi kapasitas normal atau praktis untuk setiap driver.
- Hitung tarif dan tinjau kembali perbedaan antara overhead aktual dan overhead dibebankan.
Kelebihan dan Keterbatasan
Kelebihan utama metode ini adalah informasi biaya yang lebih representatif, dukungan yang lebih baik untuk penetapan harga, serta evaluasi efisiensi departemen yang lebih jelas. Manajer dapat melihat apakah varians muncul dari pemakaian mesin atau dari jam tenaga kerja.
Keterbatasannya adalah kebutuhan data yang lebih besar, kemungkinan perdebatan saat memilih dasar alokasi, dan risiko model menjadi terlalu rumit. Tarif harus ditinjau ketika proses, teknologi, volume, atau bauran produk berubah.
Ringkasan
- Tarif overhead departemental dihitung terpisah untuk setiap departemen.
- Setiap departemen sebaiknya memakai cost driver yang paling mencerminkan konsumsi overheadnya.
- Produk menerima overhead berdasarkan aktivitas pada departemen yang dilaluinya.
- Metode ini lebih akurat daripada tarif pabrik tunggal ketika departemen memiliki pola biaya berbeda.
- ABC dapat dipertimbangkan jika keragaman aktivitas masih tinggi di dalam departemen.
Latihan Soal
Departemen A menganggarkan overhead Rp180.000.000 dan 9.000 jam mesin. Departemen B menganggarkan overhead Rp120.000.000 dan 6.000 jam tenaga kerja. Produk X menggunakan 240 jam mesin di A dan 150 jam tenaga kerja di B. Hitung tarif masing-masing departemen dan overhead yang dibebankan kepada Produk X. Jelaskan risiko jika seluruh overhead dibebankan hanya berdasarkan jam tenaga kerja.
Kunci jawaban: Tarif A Rp20.000 per jam mesin, tarif B Rp20.000 per jam tenaga kerja, dan overhead Produk X Rp7.800.000. Tarif tunggal berbasis jam tenaga kerja dapat mengabaikan konsumsi mesin sehingga biaya produk menjadi bias.
Artikel ini disusun sebagai materi edukasi berdasarkan konsep Cost Accounting Horngren dan referensi akuntansi manajemen yang relevan.