Pengertian Predetermined Overhead Rate
Dalam sistem biaya normal, overhead pabrik dibebankan ke produk menggunakan tarif overhead yang ditentukan sebelum periode berjalan. Tarif ini disebut predetermined overhead rate (POHR). Metode tersebut diperlukan karena biaya overhead aktual—seperti listrik, penyusutan mesin, pemeliharaan, dan gaji supervisor—baru diketahui secara lengkap setelah periode berakhir, sedangkan manajemen membutuhkan informasi biaya produk selama produksi berlangsung. Dengan tarif yang ditentukan di muka, biaya pesanan atau unit dapat dihitung secara konsisten dan keputusan harga tidak harus menunggu laporan akhir bulan.
Secara umum, POHR dihitung dengan membagi estimasi total overhead pabrik dengan estimasi total tingkat aktivitas yang dipilih sebagai dasar pembebanan. Dasar aktivitas harus memiliki hubungan sebab-akibat yang masuk akal dengan konsumsi overhead. Contohnya adalah jam mesin untuk pabrik yang sangat otomatis, jam tenaga kerja langsung untuk proses yang masih padat karya, atau jumlah setup untuk lingkungan produksi dengan banyak pergantian batch.
POHR = Estimasi overhead pabrik / Estimasi tingkat aktivitas
Langkah Menentukan Tarif
- Menentukan periode dan kapasitas relevan. Perusahaan menetapkan periode anggaran serta kapasitas yang realistis, bukan kapasitas maksimum yang hampir tidak pernah dicapai.
- Mengestimasi overhead. Pisahkan komponen variabel dan tetap jika diperlukan. Estimasi perlu mempertimbangkan volume produksi, kontrak utilitas, rencana pemeliharaan, dan perubahan kapasitas.
- Memilih cost driver. Pilih ukuran aktivitas yang paling menjelaskan perubahan atau konsumsi overhead.
- Menghitung POHR. Gunakan rumus dengan estimasi yang konsisten antara pembilang dan penyebut.
- Membebankan overhead selama periode. Overhead diterapkan ke produk berdasarkan aktivitas aktual yang digunakan.
Contoh Perhitungan
PT Roda Presisi mengestimasi overhead pabrik tahun depan sebesar Rp1.200.000.000 dan total jam mesin sebesar 60.000 jam. Karena mesin menjadi sumber utama konsumsi listrik, penyusutan, dan pemeliharaan, jam mesin dipilih sebagai cost driver.
| Komponen | Nilai |
|---|---|
| Estimasi overhead | Rp1.200.000.000 |
| Estimasi jam mesin | 60.000 jam |
| POHR | Rp20.000 per jam mesin |
POHR = Rp1.200.000.000 / 60.000 = Rp20.000 per jam mesin. Jika Pesanan A menggunakan 180 jam mesin, overhead yang dibebankan adalah 180 x Rp20.000 = Rp3.600.000. Jika Pesanan B menggunakan 250 jam mesin, overheadnya Rp5.000.000. Nilai tersebut dicatat dalam biaya produk bersama bahan langsung dan tenaga kerja langsung.
Overhead Dibebankan dan Overhead Aktual
Perbedaan antara overhead yang dibebankan ke produk dan overhead aktual menimbulkan saldo selisih pada akhir periode. Applied overhead adalah overhead yang dibebankan menggunakan POHR dan aktivitas aktual. Actual overhead adalah biaya overhead yang benar-benar terjadi dan dicatat selama periode.
Rumusnya adalah:
Overhead dibebankan = POHR x aktivitas aktual
Jika actual overhead lebih besar daripada applied overhead, terjadi underapplied overhead. Artinya produk menerima beban overhead yang terlalu kecil dibanding biaya aktual. Sebaliknya, jika applied overhead lebih besar daripada actual overhead, terjadi overapplied overhead. Artinya produk menerima pembebanan yang terlalu besar.
Contoh Underapplied dan Overapplied Overhead
Gunakan POHR Rp20.000 per jam mesin. Pada akhir tahun, jam mesin aktual adalah 58.000 jam sehingga overhead dibebankan = 58.000 x Rp20.000 = Rp1.160.000.000. Misalkan overhead aktual yang dicatat Rp1.210.000.000.
| Perhitungan | Jumlah |
|---|---|
| Overhead aktual | Rp1.210.000.000 |
| Overhead dibebankan | Rp1.160.000.000 |
| Underapplied overhead | Rp50.000.000 |
Selisih Rp50.000.000 perlu dianalisis. Penyebabnya bisa berupa kenaikan tarif listrik, perbaikan besar yang tidak dianggarkan, pemakaian kapasitas yang lebih rendah, atau estimasi cost driver yang tidak tepat. Selisih kecil sering ditutup ke beban pokok penjualan. Jika selisih material, perusahaan dapat mengalokasikannya ke barang dalam proses, barang jadi, dan beban pokok penjualan berdasarkan saldo masing-masing.
Mengapa Underapplied Tidak Otomatis Berarti Inefisiensi?
Underapplied overhead tidak selalu berarti produksi boros. Selisih bisa timbul karena harga input berubah, volume aktual lebih rendah dari kapasitas normal, atau hubungan antara cost driver dan overhead tidak lagi akurat. Sebaliknya, overapplied overhead juga tidak otomatis menunjukkan kinerja unggul; bisa saja tarif awal terlalu tinggi. Manajer perlu melakukan analisis varians, membandingkan anggaran fleksibel dengan realisasi, serta memeriksa perubahan aktivitas.
Pemilihan kapasitas sangat penting. Jika perusahaan menggunakan kapasitas maksimum sebagai penyebut, tarif overhead dapat terlalu rendah ketika permintaan normal tidak mencapai kapasitas itu. Horngren menekankan bahwa kapasitas praktis atau kapasitas normal membantu menghasilkan informasi biaya yang lebih stabil dan menghindari pembebanan biaya kapasitas menganggur secara tidak tepat kepada produk.
POHR Tunggal dan Tarif Departemental
Perusahaan kecil dapat menggunakan satu tarif overhead untuk seluruh pabrik. Namun, satu tarif bisa menyesatkan jika departemen memiliki pola konsumsi berbeda. Departemen pemotongan mungkin terutama menggunakan jam mesin, sedangkan departemen perakitan lebih dipengaruhi jam tenaga kerja. Dalam keadaan tersebut, tarif departemental memberi pengukuran yang lebih baik:
Tarif departemen = Estimasi overhead departemen / Estimasi aktivitas departemen
Untuk operasi yang sangat beragam, activity-based costing dapat menggunakan beberapa cost pool dan cost driver, seperti jumlah setup, inspeksi, pesanan pembelian, dan jam mesin. Tujuannya bukan memperbanyak perhitungan tanpa manfaat, melainkan meningkatkan ketepatan informasi ketika biaya tidak lagi digerakkan oleh satu ukuran volume.
Ringkasan
- POHR ditetapkan sebelum periode untuk membebankan overhead secara tepat waktu.
- POHR = estimasi overhead dibagi estimasi aktivitas yang relevan.
- Overhead dibebankan dihitung dari POHR dikali aktivitas aktual.
- Underapplied terjadi ketika overhead aktual lebih besar daripada overhead dibebankan; overapplied terjadi sebaliknya.
- Selisih harus dianalisis berdasarkan harga input, volume kapasitas, efisiensi, dan kualitas estimasi cost driver.
- Tarif departemental atau ABC lebih tepat jika pola konsumsi sumber daya antarproduk berbeda.
Latihan Soal
- Estimasi overhead pabrik Rp900.000.000 dan estimasi 45.000 jam mesin. Hitung POHR.
- Dengan POHR soal pertama, produk X memakai 320 jam mesin. Berapa overhead yang dibebankan?
- Overhead aktual Rp930.000.000 dan overhead dibebankan Rp900.000.000. Tentukan jenis dan jumlah selisihnya.
- Sebutkan dua alasan mengapa penggunaan kapasitas maksimum dapat menghasilkan tarif overhead yang menyesatkan.
Kunci jawaban: (1) Rp20.000 per jam mesin. (2) Rp6.400.000. (3) Underapplied Rp30.000.000. (4) Kapasitas maksimum mungkin jarang tercapai sehingga tarif terlalu rendah dan biaya kapasitas menganggur dapat salah dibebankan kepada produk.
Artikel ini disusun sebagai materi edukasi berdasarkan konsep Cost Accounting Horngren dan referensi akuntansi manajemen yang relevan. Kebijakan penutupan selisih overhead dapat berbeda menurut sistem dan kebijakan perusahaan.