Dalam dunia bisnis yang dinamis, tidak semua akuisisi terjadi dalam satu transaksi besar. Terkadang, perusahaan induk membangun kepemilikan secara bertahap hingga akhirnya menguasai anak perusahaan. Proses inilah yang disebut Step Acquisition atau Akuisisi Bertahap. Menurut standar akuntansi modern (IFRS 3 dan SFAS 141R), treatment akuntansi untuk step acquisition berbeda signifikan dengan metode tradisional. Artikel ini membahas secara lengkap konsep, pengukuran, dan pencatatan jurnal untuk akuisisi bertahap.
Apa Itu Step Acquisition?
Step acquisition terjadi ketika investor memperoleh kontrol atas entitas target melalui beberapa transaksi terpisah. Sebelum mencapai kontrol, investasi awal dicatat menggunakan equity method atau fair value tergantung tingkat pengaruh. Namun, pada tanggal akuisisi—ketika kontrol tercapai—investasi yang telah dimiliki sebelumnya harus diukur kembali (remeasured) ke nilai wajar.
Contoh nyata: PT Maju Jaya membeli 20% saham PT Sukses Abadi pada 2022 dengan harga Rp5 miliar. Dua tahun kemudian (2024), PT Maju Jaya membeli tambahan 40% saham seharga Rp15 miliar, sehingga total kepemilikan menjadi 60% dan kontrol tercapai.
Prinsip Akuntansi Step Acquisition
Berdasarkan Advanced Accounting (Kieso, Weygandt, Warfield, Edisi 16), terdapat tiga prinsip utama dalam step acquisition:
- Remeasurement ke Fair Value: Kepemilikan sebelumnya (previously held equity interest) diukur kembali ke nilai wajar pada tanggal akuisisi.
- Pengakuan Gain/Loss: Selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat investasi lama diakui dalam laba rugi periode berjalan.
- Penghitungan Goodwill: Goodwill dihitung berdasarkan total imbalan yang diserahkan, termasuk nilai wajar kepemilikan sebelumnya dan NCI.
Perhitungan Goodwill dalam Step Acquisition
Rumus goodwill dalam akuisisi bertahap adalah sebagai berikut:
Goodwill = (Nilai wajar kepemilikan sebelumnya + Imbalan untuk kepemilikan baru + Nilai wajar NCI) – Nilai wajar aset bersih teridentifikasi
Catatan penting: Jumlah ini mencerminkan total business yang diakuisisi, bukan hanya bagian baru yang dibeli. Perubahan ini merupakan penyempurnaan dari standar lama yang menggunakan metode akumulasi biaya.
Contoh Jurnal: Step Acquisition
Berikut adalah ilustrasi pencatatan jurnal untuk PT Maju Jaya yang mengakuisisi PT Sukses Abadi secara bertahap. Anggap nilai wajar kepemilikan 20% lama pada tanggal akuisisi adalah Rp7 miliar (nilai tercatat Rp5 miliar), dan nilai wajar aset bersih teridentifikasi adalah Rp40 miliar. NCI dinilai Rp16 miliar.
Tabel 1: Perhitungan Goodwill
| Komponen | Jumlah (Rp Miliar) |
|---|---|
| Nilai wajar kepemilikan 20% lama | 7.000 |
| Imbalan untuk kepemilikan 40% baru | 15.000 |
| Nilai wajar NCI (40%) | 16.000 |
| Total | 38.000 |
| Nilai wajar aset bersih teridentifikasi | (40.000) |
| Bargain Purchase Gain (negative goodwill) | (2.000) |
Tabel 2: Jurnal pada Tanggal Akuisisi
| Akun | Debit (Rp) | Kredit (Rp) |
|---|---|---|
| Investment in PT Sukses Abadi (penyesuaian ke fair value) | 2.000.000.000 | – |
| Gain on Remeasurement | – | 2.000.000.000 |
| Investment in PT Sukses Abadi (akuisisi 40% baru) | 15.000.000.000 | – |
| Cash / Bank | – | 15.000.000.000 |
Penjelasan: Kepemilikan 20% yang semula dicatat Rp5 miliar diukur kembali menjadi Rp7 miliar, menghasilkan gain Rp2 miliar. Selanjutnya, investasi untuk 40% baru dicatat sesuai imbalan yang diserahkan sebesar Rp15 miliar. Total investasi setelah akuisisi menjadi Rp22 miliar di laporan posisi keuangan konsolidasi.
Perbedaan dengan Standar Lama (Cost Method)
Sebelum revisi SFAS 141R, kepemilikan sebelumnya tetap dicatat berdasarkan biaya historis (carryover basis). Tidak ada gain/loss yang diakui pada tanggal akuisisi, dan goodwill hanya dihitung dari bagian baru yang diakuisisi. Standar modern memberikan gambaran yang lebih akurat tentang nilai ekonomis transaksi karena mencerminkan nilai wajar seluruh bisnis pada tanggal kontrol.
Ringkasan Poin-Poin Penting
- Step acquisition adalah akuisisi kontrol yang dicapai melalui beberapa transaksi terpisah.
- Investasi lama di-remeasure ke nilai wajar pada tanggal akuisisi dengan selisih diakui sebagai gain/loss.
- Goodwill dihitung dari total imbalan (fair value investasi lama + baru + NCI) dikurangi fair value aset bersih teridentifikasi.
- Metode ini memberikan informasi yang lebih relevan bagi para pengguna laporan keuangan.
- Bargain purchase gain diakui jika total imbalan lebih kecil dari fair value aset bersih teridentifikasi.
Quiz & Latihan Soal
Soal 1: PT A memiliki 15% saham PT B (dicatat equity method, nilai tercatat Rp3 miliar). Pada Januari 2024, PT A membeli tambahan 50% saham PT B seharga Rp12 miliar. Nilai wajar kepemilikan 15% lama adalah Rp4 miliar. Berapakah gain on remeasurement yang harus diakui PT A?
Jawaban: Rp1 miliar (Rp4 miliar – Rp3 miliar).
Soal 2: Jika nilai wajar aset bersih teridentifikasi PT B adalah Rp25 miliar dan NCI dinilai Rp8,75 miliar, hitunglah goodwill atau bargain purchase gain dari transaksi di Soal 1!
Jawaban: Total imbalan = Rp4 + Rp12 + Rp8,75 = Rp24,75 miliar. Aset bersih = Rp25 miliar. Bargain purchase gain = Rp0,25 miliar.
Soal 3: Mengapa goodwill dalam step acquisition dihitung berdasarkan total business value, bukan hanya bagian yang baru diakuisisi?
Jawaban: Karena tanggal akuisisi adalah titik di mana perusahaan induk memperoleh control atas bisnis target. Seluruh bisnis diukur berdasarkan nilai wajar pada tanggal tersebut untuk mencerminkan substansi ekonomi transaksi.
Kesimpulan
Akuisisi bertahap menuntut pemahaman mendalam tentang konsep nilai wajar dan pengukuran kembali. Standar akuntansi modern mensyaratkan agar investor tidak hanya mencatat transaksi baru, tetapi juga menilai kembali investasi lama seolah-olah baru diperoleh pada tanggal kontrol. Pendekatan ini meningkatkan relevansi dan keandalan laporan keuangan konsolidasi, terutama dalam transaksi bisnis yang semakin kompleks saat ini.