Anggaran penjualan, anggaran produksi, dan anggaran bahan baku langsung merupakan rangkaian penting dalam master budget. Ketiganya mengubah rencana pemasaran menjadi kebutuhan operasi yang terukur. Dalam kerangka Management Accounting Horngren, anggaran membantu manajer merencanakan sumber daya, mengoordinasikan fungsi, serta mengevaluasi hasil aktual terhadap target.
1. Anggaran Penjualan
Anggaran penjualan adalah taksiran unit yang akan dijual dan harga jual per unit selama periode tertentu. Karena penjualan menjadi pemicu banyak anggaran lain, penyusunannya perlu mempertimbangkan tren historis, kapasitas pasar, harga pesaing, promosi, musim, serta kebijakan kredit.
Rumus: Penjualan anggaran = Unit penjualan yang dianggarkan × Harga jual per unit.
| Bulan | Unit | Harga | Penjualan |
|---|---|---|---|
| Januari | 1.000 | Rp50.000 | Rp50.000.000 |
| Februari | 1.200 | Rp50.000 | Rp60.000.000 |
| Maret | 1.100 | Rp50.000 | Rp55.000.000 |
Dengan data tersebut, penjualan kuartal pertama adalah 3.300 unit atau Rp165.000.000. Perusahaan juga perlu membuat jadwal penerimaan kas. Misalnya 60% penjualan diterima pada bulan berjalan dan 40% pada bulan berikutnya. Informasi ini nantinya digunakan dalam cash budget.
2. Anggaran Produksi
Anggaran produksi menerjemahkan target penjualan menjadi jumlah unit yang harus diproduksi. Produksi tidak selalu sama dengan penjualan karena perusahaan mempertahankan persediaan barang jadi untuk menghadapi fluktuasi permintaan.
Rumus: Produksi yang diperlukan = Penjualan anggaran + Persediaan akhir barang jadi yang diinginkan − Persediaan awal barang jadi.
Misalkan penjualan Januari 1.000 unit, persediaan akhir yang diinginkan 200 unit, dan persediaan awal 150 unit. Produksi Januari = 1.000 + 200 − 150 = 1.050 unit. Jika satu unit memerlukan dua kilogram bahan baku, kebutuhan bahan untuk produksi tersebut adalah 2.100 kilogram.
Kebijakan persediaan harus realistis. Persediaan yang terlalu tinggi meningkatkan biaya penyimpanan, risiko kedaluwarsa, dan modal kerja yang terikat. Sebaliknya, persediaan terlalu rendah dapat menyebabkan kehilangan penjualan atau penghentian produksi.
3. Anggaran Bahan Baku Langsung
Anggaran bahan baku langsung menentukan kuantitas dan biaya bahan yang harus dibeli. Penyusunannya biasanya menggunakan tiga informasi: kebutuhan bahan untuk produksi, persediaan akhir bahan yang diinginkan, dan persediaan awal bahan.
Rumus pembelian bahan: Pembelian = Bahan yang diperlukan untuk produksi + Persediaan akhir bahan yang diinginkan − Persediaan awal bahan.
Lanjutan contoh: kebutuhan produksi Januari adalah 2.100 kg. Jika perusahaan ingin memiliki persediaan akhir 300 kg dan persediaan awal 250 kg, maka pembelian bahan = 2.100 + 300 − 250 = 2.150 kg. Pada harga Rp8.000 per kg, anggaran pembelian Januari adalah Rp17.200.000.
Jadwal pembelian juga harus dikaitkan dengan termin pembayaran pemasok. Bila 50% dibayar saat pembelian dan sisanya bulan berikutnya, anggaran bahan baku berkontribusi langsung pada estimasi arus kas keluar.
4. Hubungan Antar-Anggaran
Ketiga anggaran tersebut membentuk hubungan sebab-akibat. Perkiraan penjualan menentukan kebutuhan produksi. Produksi menentukan kebutuhan bahan baku. Keduanya memengaruhi tenaga kerja, overhead pabrik, persediaan, utang usaha, dan kas. Karena itu, perubahan asumsi penjualan harus segera dikomunikasikan kepada bagian produksi dan pembelian.
Dalam praktik, penyusunan dapat dilakukan melalui proses bottom-up, ketika manajer unit mengusulkan angka berdasarkan pengetahuan operasional, lalu direviu manajemen puncak. Pendekatan partisipatif dapat meningkatkan komitmen, tetapi perlu dikendalikan agar tidak terjadi budgetary slack, yaitu kecenderungan menetapkan target terlalu mudah dicapai.
5. Contoh Terpadu
PT Maju menjual produk seharga Rp50.000. Target April 2.000 unit. Persediaan barang jadi awal 300 unit dan target akhir 400 unit. Setiap produk memerlukan 3 kg bahan seharga Rp8.000 per kg. Persediaan bahan awal 500 kg dan target akhir 700 kg.
- Produksi: 2.000 + 400 − 300 = 2.100 unit.
- Bahan untuk produksi: 2.100 × 3 = 6.300 kg.
- Pembelian bahan: 6.300 + 700 − 500 = 6.500 kg.
- Nilai pembelian bahan: 6.500 × Rp8.000 = Rp52.000.000.
Contoh ini menunjukkan mengapa angka pembelian tidak boleh dihitung hanya dari penjualan. Persediaan awal dan target persediaan akhir mengubah jumlah produksi serta pembelian.
6. Manfaat dan Keterbatasan
Anggaran membantu menetapkan target, mengantisipasi kekurangan kapasitas, menegosiasikan pembelian, dan mengoordinasikan keputusan. Namun, anggaran bukan ramalan yang pasti. Ketidakpastian harga bahan, perubahan selera pelanggan, gangguan pemasok, dan inflasi dapat membuat asumsi awal tidak berlaku. Manajer sebaiknya menggunakan analisis sensitivitas dan meninjau anggaran secara berkala.
Ringkasan
Anggaran penjualan menjadi titik awal. Anggaran produksi dihitung dari penjualan serta kebijakan persediaan barang jadi. Anggaran bahan baku langsung menghitung kebutuhan bahan untuk produksi dan penyesuaian persediaan bahan. Integrasi ketiganya meningkatkan koordinasi, tetapi kualitas hasil sangat bergantung pada asumsi dan komunikasi lintas fungsi.
Latihan Soal
- Perusahaan menargetkan penjualan 4.000 unit, persediaan akhir barang jadi 600 unit, dan persediaan awal 450 unit. Berapa unit yang harus diproduksi?
- Setiap unit memerlukan 2,5 kg bahan. Jika persediaan akhir bahan 1.000 kg dan persediaan awal 800 kg, berapa kilogram bahan yang harus dibeli berdasarkan jawaban pertama?
- Jelaskan dua risiko apabila target persediaan akhir ditetapkan terlalu tinggi.