Job Order Costing: Perhitungan Biaya Berdasarkan Pesanan
Job order costing adalah metode akuntansi biaya yang digunakan untuk menghitung biaya setiap pesanan, proyek, atau pekerjaan secara terpisah. Metode ini penting bagi perusahaan yang menghasilkan produk atau jasa yang berbeda-beda sesuai permintaan pelanggan. Contohnya adalah percetakan, kontraktor, bengkel, konsultan, produsen furnitur khusus, dan perusahaan periklanan.
Dalam kerangka akuntansi manajemen yang dijelaskan Horngren, informasi biaya harus membantu manajer melakukan perencanaan, pengendalian, penetapan harga, serta evaluasi kinerja. Job order costing menyediakan informasi tersebut dengan menelusuri biaya bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead ke setiap pekerjaan.
Pengertian Job Order Costing
Job order costing, atau job costing, merupakan sistem pengumpulan biaya berdasarkan pesanan tertentu. Setiap pesanan diberi identitas atau nomor pekerjaan, kemudian seluruh biaya yang berkaitan dengan pesanan tersebut dicatat pada kartu biaya pesanan atau job cost sheet.
Berbeda dari proses produksi massal yang menghasilkan unit homogen, job order costing digunakan ketika setiap pekerjaan memiliki spesifikasi, kebutuhan sumber daya, dan tingkat kompleksitas yang berbeda. Karena itu, biaya satu pesanan dapat sangat berbeda dari pesanan lainnya.
Misalnya, sebuah percetakan menerima Pesanan A untuk mencetak 1.000 brosur dan Pesanan B untuk mencetak 500 katalog dengan desain khusus. Kedua pekerjaan tersebut menggunakan bahan, waktu mesin, dan tenaga kerja yang berbeda. Biaya masing-masing harus dihitung secara terpisah agar perusahaan dapat menentukan harga jual dan laba secara lebih akurat.
Landasan Akuntansi Manajemen Menurut Horngren
Horngren menempatkan akuntansi manajemen sebagai proses identifikasi, pengukuran, analisis, interpretasi, dan komunikasi informasi keuangan yang digunakan manajemen untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam konteks job order costing, biaya tidak hanya dikumpulkan untuk kebutuhan laporan keuangan, tetapi juga untuk mendukung keputusan internal.
Informasi biaya pesanan dapat digunakan untuk menjawab beberapa pertanyaan manajerial, antara lain:
- Berapa biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelesaikan suatu pesanan?
- Apakah harga jual yang ditetapkan mampu menutup biaya dan menghasilkan laba?
- Pesanan mana yang paling menguntungkan?
- Apakah terjadi pemborosan bahan atau penggunaan tenaga kerja yang tidak efisien?
- Bagaimana perusahaan menyusun anggaran dan memperkirakan biaya pesanan berikutnya?
Dengan demikian, job order costing merupakan alat pengukuran biaya sekaligus alat pengendalian manajemen. Ketepatan data sangat dipengaruhi oleh kualitas dokumen sumber, dasar pembebanan overhead, dan disiplin pencatatan setiap departemen.
Komponen Biaya dalam Job Order Costing
1. Bahan baku langsung
Bahan baku langsung adalah bahan yang dapat ditelusuri secara ekonomis ke suatu pesanan. Contohnya kayu untuk membuat meja khusus, kain untuk seragam pelanggan, atau kertas untuk mencetak brosur. Biaya ini dicatat langsung ke nomor pesanan berdasarkan formulir permintaan bahan.
2. Tenaga kerja langsung
Tenaga kerja langsung adalah upah karyawan yang waktunya dapat diidentifikasi dengan jelas pada suatu pekerjaan. Jam kerja karyawan biasanya dicatat melalui kartu waktu atau time ticket. Tarif tenaga kerja dikalikan dengan jumlah jam yang digunakan untuk pesanan.
Rumus biaya tenaga kerja langsung adalah:
Biaya tenaga kerja langsung = Jam kerja langsung × Tarif upah per jam
3. Biaya overhead pabrik
Biaya overhead mencakup biaya produksi selain bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung. Contohnya adalah depresiasi mesin, listrik pabrik, pemeliharaan, bahan penolong, tenaga kerja tidak langsung, dan penyusutan peralatan.
Overhead biasanya tidak ditelusuri langsung ke satu pesanan karena digunakan bersama oleh banyak pekerjaan. Oleh sebab itu, perusahaan membebankannya dengan tarif overhead yang telah ditentukan sebelumnya.
Rumus Utama Job Order Costing
Total biaya suatu pesanan dihitung dengan menjumlahkan tiga komponen utama:
Total biaya pesanan = Bahan baku langsung + Tenaga kerja langsung + Overhead dibebankan
Tarif overhead ditentukan sebelum periode produksi dimulai. Rumusnya adalah:
Tarif overhead ditentukan di muka = Estimasi total overhead ÷ Estimasi total dasar pembebanan
Dasar pembebanan dapat berupa jam tenaga kerja langsung, biaya tenaga kerja langsung, jam mesin, unit produksi, atau ukuran lain yang memiliki hubungan sebab-akibat dengan overhead. Horngren menekankan pentingnya memilih dasar alokasi yang mencerminkan konsumsi sumber daya secara wajar.
Setelah tarif ditentukan, overhead yang dibebankan ke suatu pesanan dihitung sebagai berikut:
Overhead dibebankan = Tarif overhead × Jumlah dasar pembebanan aktual untuk pesanan
Langkah-Langkah Menghitung Biaya Pesanan
- Identifikasi pesanan dan berikan nomor pekerjaan.
- Catat bahan baku langsung yang digunakan berdasarkan bukti permintaan bahan.
- Catat jam kerja langsung dan tarif upah karyawan.
- Tentukan tarif overhead sebelum produksi berlangsung.
- Alokasikan overhead ke setiap pesanan menggunakan dasar pembebanan yang dipilih.
- Jumlahkan bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead.
- Hitung biaya per unit jika pesanan terdiri atas beberapa unit.
- Bandingkan total biaya dengan harga jual untuk mengetahui laba kotor.
Dokumen utama yang mendukung proses ini adalah kartu biaya pesanan, formulir permintaan bahan, kartu jam kerja, laporan produksi, dan dokumen penjualan. Kartu biaya pesanan sebaiknya memuat nomor pesanan, nama pelanggan, tanggal, jumlah unit, bahan langsung, tenaga kerja langsung, overhead, total biaya, dan biaya per unit.
Contoh Perhitungan Job Order Costing
PT Kreasi Furnitur menerima Pesanan 101 untuk membuat 20 meja kerja khusus. Sebelum periode produksi, perusahaan memperkirakan overhead pabrik sebesar Rp240.000.000 dan total jam tenaga kerja langsung sebesar 12.000 jam. Oleh karena itu, tarif overhead ditentukan di muka adalah:
Rp240.000.000 ÷ 12.000 jam = Rp20.000 per jam tenaga kerja langsung
Untuk menyelesaikan Pesanan 101, data aktualnya sebagai berikut:
| Komponen biaya | Perhitungan | Jumlah |
|---|---|---|
| Bahan baku langsung | Kayu, cat, dan perlengkapan utama | Rp18.000.000 |
| Tenaga kerja langsung | 600 jam × Rp50.000 | Rp30.000.000 |
| Overhead dibebankan | 600 jam × Rp20.000 | Rp12.000.000 |
| Total biaya Pesanan 101 | Rp60.000.000 | |
Dengan demikian, total biaya Pesanan 101 adalah Rp60.000.000. Karena pesanan terdiri atas 20 meja, biaya per unitnya adalah:
Rp60.000.000 ÷ 20 unit = Rp3.000.000 per meja
Jika perusahaan menginginkan margin laba sebesar 25% dari biaya, harga jual per meja dapat dihitung dengan rumus:
Harga jual per unit = Biaya per unit × (1 + Persentase margin)
Rp3.000.000 × 125% = Rp3.750.000 per meja
Total nilai penjualan untuk 20 meja adalah Rp75.000.000. Dengan asumsi tidak ada biaya nonproduksi lain yang perlu diperhitungkan, laba kotor dari pesanan tersebut adalah Rp15.000.000.
Pencatatan Akuntansi Secara Umum
Pada saat bahan langsung digunakan untuk suatu pesanan, perusahaan mendebit barang dalam proses dan mengkredit persediaan bahan baku. Ketika tenaga kerja langsung dicatat, akun barang dalam proses didebit dan utang gaji atau gaji yang masih harus dibayar dikredit.
Overhead dibebankan dicatat dengan mendebit barang dalam proses dan mengkredit overhead pabrik dibebankan. Apabila pekerjaan selesai, biaya dipindahkan dari barang dalam proses ke persediaan barang jadi. Ketika produk dijual, biaya produk dipindahkan dari persediaan barang jadi ke harga pokok penjualan.
| Transaksi | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Pemakaian bahan langsung | Barang dalam proses | Persediaan bahan baku |
| Pencatatan tenaga kerja langsung | Barang dalam proses | Utang gaji atau gaji dibayar |
| Pembebanan overhead | Barang dalam proses | Overhead dibebankan |
| Penyelesaian pesanan | Persediaan barang jadi | Barang dalam proses |
| Penjualan produk | Harga pokok penjualan | Persediaan barang jadi |
Dalam praktik, perusahaan juga mencatat overhead aktual pada akun overhead pengendali. Pada akhir periode, overhead aktual dibandingkan dengan overhead yang dibebankan. Jika overhead aktual lebih besar, terjadi underapplied overhead. Jika overhead aktual lebih kecil, terjadi overapplied overhead. Selisih tersebut perlu dianalisis dan disesuaikan sesuai kebijakan akuntansi perusahaan.
Kelebihan dan Keterbatasan
Kelebihan
- Menunjukkan biaya dan profitabilitas setiap pesanan secara lebih rinci.
- Mendukung penetapan harga berdasarkan data biaya.
- Membantu mengendalikan penggunaan bahan dan tenaga kerja.
- Cocok untuk produk atau jasa yang bersifat khusus.
- Menyediakan dasar evaluasi kinerja proyek dan departemen.
Keterbatasan
- Membutuhkan pencatatan dokumen yang lengkap dan konsisten.
- Perhitungan dapat menjadi rumit jika jumlah pesanan sangat banyak.
- Hasil biaya dipengaruhi oleh ketepatan estimasi tarif overhead.
- Alokasi overhead dapat menimbulkan distorsi jika dasar pembebanan tidak mencerminkan konsumsi sumber daya.
Untuk mengurangi distorsi, perusahaan dengan proses yang kompleks dapat mempertimbangkan pendekatan activity-based costing. Namun, job order costing tetap relevan selama karakteristik pekerjaan dan sistem produksi mendukung pengumpulan biaya berdasarkan pesanan.
Perbedaan Job Order Costing dan Process Costing
| Aspek | Job order costing | Process costing |
|---|---|---|
| Objek biaya | Pesanan atau proyek tertentu | Departemen atau proses produksi |
| Karakteristik produk | Beragam dan sesuai spesifikasi pelanggan | Homogen dan diproduksi massal |
| Pengumpulan biaya | Per nomor pekerjaan | Per periode dan proses |
| Contoh industri | Kontraktor, percetakan, bengkel | Semen, makanan, bahan kimia |
| Biaya per unit | Total biaya pesanan dibagi unit pesanan | Total biaya proses dibagi unit ekuivalen atau unit produksi |
Pemilihan metode bergantung pada pola produksi. Jika setiap pelanggan menerima pekerjaan yang unik, job order costing lebih sesuai. Jika produk melewati tahapan produksi yang sama secara berulang, process costing biasanya lebih tepat.
Tips Menerapkan Job Order Costing
Perusahaan perlu membuat kode pesanan yang konsisten agar biaya tidak tertukar. Setiap pengeluaran sebaiknya dikaitkan dengan nomor pesanan sejak awal. Selain itu, jam kerja perlu dicatat segera setelah pekerjaan dilakukan, bukan berdasarkan perkiraan di akhir periode.
Manajemen juga perlu meninjau tarif overhead secara berkala. Perubahan harga listrik, upah, kapasitas mesin, atau volume produksi dapat membuat tarif lama tidak lagi relevan. Analisis selisih antara overhead aktual dan overhead dibebankan membantu menemukan kesalahan estimasi serta peluang efisiensi.
Terakhir, laporan biaya pesanan harus disajikan dalam format yang mudah dipahami oleh manajer. Informasi seperti biaya aktual, anggaran, persentase penyelesaian, margin, dan sisa biaya akan lebih bermanfaat daripada sekadar angka total.
Ringkasan
Job order costing adalah metode perhitungan biaya berdasarkan pesanan yang teridentifikasi secara khusus. Total biaya pesanan terdiri atas bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead yang dibebankan. Tarif overhead ditentukan di muka dengan membagi estimasi overhead berdasarkan estimasi dasar pembebanan.
Menurut perspektif Horngren, informasi biaya harus mendukung perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan. Karena itu, job order costing tidak berhenti pada penghitungan harga pokok, tetapi juga membantu perusahaan menetapkan harga, mengevaluasi laba, mengendalikan sumber daya, dan menilai kinerja setiap proyek.
Latihan Soal
Soal 1
Estimasi overhead perusahaan adalah Rp150.000.000 dan estimasi jam mesin 10.000 jam. Pesanan X menggunakan 200 jam mesin, bahan langsung Rp8.000.000, dan tenaga kerja langsung Rp12.000.000. Berapa total biaya Pesanan X?
Jawaban singkat: Tarif overhead = Rp150.000.000 ÷ 10.000 = Rp15.000 per jam. Overhead Pesanan X = 200 × Rp15.000 = Rp3.000.000. Total biaya = Rp8.000.000 + Rp12.000.000 + Rp3.000.000 = Rp23.000.000.
Soal 2
Sebuah pesanan memiliki total biaya Rp45.000.000 untuk 15 unit produk. Jika perusahaan menetapkan harga jual dengan markup 30% atas biaya, berapa harga jual per unit?
Jawaban singkat: Biaya per unit = Rp45.000.000 ÷ 15 = Rp3.000.000. Harga jual per unit = Rp3.000.000 × 130% = Rp3.900.000.
Soal 3
Mengapa overhead perlu dibebankan menggunakan tarif yang ditentukan di muka?
Jawaban singkat: Karena biaya overhead aktual sering baru diketahui setelah periode berakhir. Tarif di muka memungkinkan perusahaan menghitung biaya pesanan dan menetapkan harga secara tepat waktu selama produksi berjalan.