Nasib Dunia Pendidikan Indonesia – Microsoft Vs Open Source

Submitted by localhost on Mon, 11/16/2015 - 14:47

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu,maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umummencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : … ”

 

 

Ada yang tau tulisan apa diatas? Ya, pembukaan UUD 1945. Lalu apa hubungannya dunia pendidikan indonesia dengan microsoft ataupun dengan opensource? Sebentar akan saya jelaskan. Tapi perhatikan yang saya bold ya…

Flash Back:
> 30 Juni 2004

5 menteri Indonesia yaitu Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara, Menteri Riset dan Teknologi, Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Hukum dan HAM, dan Menteri Komunikasi dan Informatika menandatangani deklarasi pendirian IGOS (Indonesia Go Open Source). Kelima kementrian RI ini menjadi bukti dukungan pemerintah dalam memenuhi amanat UUD 1945.

 

> 30 Maret 2009

pemerintah kembali menunjukkan dukungannya terhadap program IGOS. Hal ini ditunjukan dengan Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (MenPAN),

tentang Pemanfaatan Perangkat Lunak Legal dan Open Source Software telah diterbitkan, yang ditujukan kepada Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Panglima TNI, Jaksa Agung, Kepala Kepolisian RI, Gubernur Bank Indonesia, Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen, Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Negara dan Lembaga Lainnya, Para Gubernur, Bupati/Walikota, dan Direksi BUMN, yang isinya utamanya pada point ke 2 :

” Dalam rangka mempercepat penggunaan perangkat lunak legal di Indonesia, maka di WAJIBKAN kepada Instansi Pemerintah untuk menggunakan perangkat lunak Open Source, guna menghemat anggaran Pemerintah”

 

> 2 MEI 2011

Poin penting terjadi pada tanggal tersebut. Menteri Pendidikan Indonesia memberikan kado yang sangat pahit bagi generasi penerus bangsa ini dan khususnya bagi aktivis opensource yang telah berjuang sosialisasi opensource secara sukarela selama bertahun-tahun, yaitu MOU antara Kementerian Pendidikan Nasional dengan Microsoft.

point utama yang dibidik adalah :

“Berdasarkan data dari Kemdiknas, saat ini di Indonesia terdapat sebanyak sekitar 165.000 buah sekolah, mulai dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas, dan sebanyak 4.500 buah universitas yang tersebar di seluruh di Indonesia. Total jumlah siswa di seluruh Indonesia mencapai 45 juta orang”

Sekian banyak ini mau memakai program-program Microsoft yang notabene berbayar semua???

Mendiknas bisa saja lupa kalo departemen nya dulu telah menandatangani deklarasi IGOS (memang terkesan kebangetan kalo sampai lupa) , tapi tentunya beliau bisa berhitung, berapa dana yang diperlukan untuk mewujudkan ambisi Microsoft itu!? Inikah solusi mencerdaskan kehidupan bangsa seperti amanat UUD 45?

Setelah MOU ditandatangani, efeknya langsung terasa.

Sistem Informasi Sekolah yang dikembangkan dan akan digunakan untuk seluruh sekolah di Indonesia, berbasis MS Windows. Silahkan lihat Sisfokol yang bernama Paket Aplikasi Sekolah (PAS) untuk SMPbuatan Diknas ini. Semua elemen yang digunakan mulai server sampai ke workstation berbasis Windows.

Belum cukup puas? Pada awal tahun ajaran baru ini 2011-2012, Departemen Pendidikan Nasional melalui Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah menerbitkan Buku Ajar Wajib , Pengetahuan Dasar Teknologi (TIK) untuk Sekolah RSBI/SBI Negeri dengan SELURUH materinya berdasarkan software proprietary Microsoft dan kawan-kawannya.

Disaat negara lain ramai-ramai migrasi ke solusi opensource demi memerdekakan kebebasan teknologi bangsanya, Indonesia justru terpuruk dan menyerahkan diri kedalam bentuk penjajahan model baru, yaitu penjajahan teknologi dan kreatifitas.

Apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan generasi bangsa ini?

 

 

Anda mungkin juga ingin membaca kelanjutannya, untuk itu silahkan baca di Nasib Dunia Pendidikan Indonesia – Microsoft Vs Open Source Part 2.

Sumber asli yang belum diedit dan disunting :

http://teknologi.kompasiana.com/internet/2011/09/06/nasib-pendidikan-indonesia-dalam-cengkeraman-microsoft/